PEKANBARU - Pemerintah Kota Pekanbaru menunjukkan model baru pengelolaan sampah kepada para delegasi Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Green Cities Mayors Council (GCMC). Dalam rangkaian field trip, rombongan delegasi dibawa dari SMP Negeri 4 Pekanbaru menuju Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang untuk melihat langsung praktik ekonomi sirkular berbasis kemitraan.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho memperkenalkan Waste Station Rekosistem, stasiun daur ulang sampah berbasis aplikasi digital yang dihadirkan melalui kolaborasi dengan pihak swasta tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Di fasilitas tersebut, masyarakat dapat menyetorkan sampah anorganik untuk dikelola melalui sistem digital. Skema ini sekaligus menjadi alternatif terhadap pola bank sampah konvensional yang masih menghadapi kendala pembayaran tunai di lokasi.
“Ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu menggunakan APBD. Pemerintah bisa membuka ruang kolaborasi dengan pihak swasta untuk menghadirkan solusi yang lebih cepat, transparan, dan terintegrasi,” kata Agung.
Menurut dia, digitalisasi menjadi salah satu kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terukur. Masyarakat tidak hanya didorong memilah sampah dari sumber, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari sampah yang mereka setorkan.
Di hadapan delegasi Indonesia, Malaysia, dan Thailand, Agung juga memaparkan rencana penataan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), termasuk pengembangan teknologi pengolahan sampah yang lebih ramah lingkungan.
Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi Pemko Pekanbaru untuk menggeser paradigma pengelolaan sampah. Sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang ke TPA, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan dapat masuk kembali ke dalam rantai produksi.
RTH sebagai Pusat Edukasi
Kunjungan ke RTH Putri Kaca Mayang juga memperlihatkan arah baru pemanfaatan ruang terbuka publik di Pekanbaru.
RTH tidak hanya diposisikan sebagai ruang hijau, tempat olahraga, maupun ruang bermain yang ramah anak. Pemerintah kota mulai menjadikannya sebagai ruang edukasi publik mengenai lingkungan, pemilahan sampah, dan ekonomi sirkular.
Model tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa agenda kota hijau tidak berhenti pada pembangunan taman atau penghijauan kota. Infrastruktur hijau harus terhubung dengan sistem pengelolaan sampah, partisipasi masyarakat, teknologi, dan kemitraan dengan sektor swasta.
Melalui kunjungan delegasi IMT-GT GCMC, Pekanbaru ingin menunjukkan bahwa transformasi menuju kota hijau dapat dimulai dari langkah konkret di tingkat kota.
Waste Station Rekosistem menjadi salah satu contoh bahwa kolaborasi pemerintah dan swasta dapat menghasilkan inovasi lingkungan tanpa membebani APBD.
Sementara penataan TPA dan rencana teknologi pengolahan sampah menjadi bagian dari langkah lanjutan untuk membangun sistem persampahan yang lebih modern dan berkelanjutan.