Kanal

Museum Bank Indonesia Tak Sekadar Simpan Sejarah Mata Uang

Jakarta - Museum Bank Indonesia tidak ingin sekadar menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Museum yang berada di bawah Departemen Komunikasi Bank Indonesia itu dikembangkan sebagai ruang edukasi, pertukaran gagasan, sekaligus jembatan untuk mengenalkan sejarah moneter Indonesia kepada masyarakat.

Kepala Museum Bank Indonesia Rio Wardhanu mengatakan, museum memiliki fungsi penting dalam menyampaikan pengetahuan mengenai perjalanan mata uang dan sejarah perekonomian Indonesia.

“Bagaimana menyampaikan secara kebangsaan mengenai desain arsitektural dan koleksi numismatik, serta bagaimana mata uang itu pernah beredar di wilayah Nusantara,” ujar Rio dalam kegiatan media gathering bersama perwakilan wartawan dari Riau.

Menurut dia, akses terhadap museum juga diupayakan tetap terbuka bagi masyarakat luas. Untuk rombongan, kunjungan dapat difasilitasi museum. Sementara kunjungan perseorangan pada hari operasional juga dapat dilakukan dengan biaya tertentu yang relatif terjangkau, terutama untuk mendukung kebutuhan tenaga pelayanan.

Rio menegaskan, biaya tersebut bukan semata-mata untuk membatasi akses masyarakat, melainkan bagian dari pengelolaan layanan agar museum tetap mampu memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada pengunjung.

Lebih jauh, Museum Bank Indonesia juga menjadi bagian dari komunitas museum moneter internasional. Keanggotaan tersebut mempertemukan museum-museum dari berbagai negara yang memiliki perhatian terhadap sejarah uang, sistem moneter, dan perkembangan ekonomi.

Karena itu, konsep museum menurut Rio kini tidak lagi berhenti pada fungsi konvensional sebagai tempat menyimpan dan memamerkan koleksi.

“Museum konsepnya tidak lagi hanya sebagai tempat untuk barang-barang itu, tetapi menjadi melting pot, tempat kita bisa menyatukan gagasan dan membicarakan hal-hal baru,” katanya.

Konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan, termasuk pameran temporer yang digelar secara berkala. Pameran itu mengangkat tema-tema tertentu yang dinilai relevan dengan perkembangan masyarakat dan ekonomi.

Museum Bank Indonesia, kata Rio, setidaknya menggelar pameran temporer dua kali dalam setahun. Tema yang diangkat tidak selalu berkaitan langsung dengan sejarah mata uang, tetapi dapat berkembang pada isu ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Salah satu kegiatan yang pernah digelar mengangkat isu keberlanjutan ekonomi. Kegiatan semacam itu menjadi ruang bagi museum untuk mempertemukan masyarakat, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar perspektif.

“Kalau biasanya sejarah yang diberikan, kami juga memberikan kesempatan museum sebagai wadah untuk saling berkumpul dan mendiskusikan hal-hal baru,” ujar Rio.

Dalam kesempatan tersebut, Rio menyambut kehadiran perwakilan media dari Riau dalam kegiatan media gathering. Ia berharap hubungan museum dengan media tidak hanya menghasilkan pemberitaan mengenai kebijakan dan ekonomi Bank Indonesia, tetapi juga memperluas pemahaman publik terhadap peran bank sentral dari perspektif budaya dan sejarah.

Menurut dia, sejarah moneter merupakan bagian dari perjalanan bangsa yang penting untuk terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

“Teman-teman wartawan menjadi mitra kami bagi Indonesia. Pemberitaan tidak hanya bicara mengenai ekonominya, tetapi juga melihat bank sentral dari sisi budayanya, bagaimana kita merawat kesejahteraan,” katanya.

Ia berharap museum dapat terus menjadi ruang yang terbuka bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan memahami perjalanan ekonomi Indonesia melalui jejak sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Ikuti Terus JurnalPekan

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER