Kanal

Museum BI, Jejak Panjang Sejarah Perdagangan dan Perbankan di Batavia

Jakarta - Dibalik kemegahan bangunan Museum Bank Indonesia (BI) tersimpan jejak panjang sejarah Jakarta, perdagangan Nusantara, hingga perkembangan sistem perbankan di Indonesia.

Edukasi Museum Bank Indonesia Paris menjelaskan, bangunan tersebut tidak dapat dilepaskan dari perjalanan Batavia yang sejak berabad-abad lalu berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan penting di kawasan Asia Tenggara.

Batavia didatangi kapal-kapal dari berbagai wilayah, mulai dari Asia Tenggara, China, Jepang, hingga Portugis dan Inggris. Pada 1619, VOC menguasai Batavia dan menjadikannya pusat perdagangan VOC di Asia Tenggara.

Perkembangan ekonomi semakin pesat setelah sistem tanam paksa berakhir dan pemerintah kolonial menerapkan Undang-Undang Agraria. Masuknya modal swasta turut mendorong aktivitas ekonomi di Batavia yang saat itu menjadi ibu kota Hindia Belanda.

"Kebutuhan terhadap infrastruktur perbankan pun ikut meningkat," kata Paris dihadapan sejumlah Wartawan dari Riau, Kamis (24/9/2026).

Pada 1909, seorang arsitek bernama Eduard Cuypers ditunjuk merancang gedung perbankan baru untuk menggantikan bangunan sebelumnya. Pembangunan tahap pertama menghasilkan gedung dengan rancangan arsitektur yang menonjolkan kemegahan, sekaligus mengadopsi karakter arsitektur khas Hindia Belanda.

Lantai atas digunakan sebagai ruang utama pelayanan perbankan, sementara lantai dasar difungsikan sebagai ruang penyimpanan. Di dalamnya terdapat ruang penyimpanan harta dan berbagai fasilitas pendukung sistem perbankan pada masa itu.

Bangunan tersebut juga dilengkapi teknologi dan konstruksi yang tergolong maju pada zamannya. Penggunaan mesin dan teknologi bangunan menjadi bagian dari upaya menghadirkan fasilitas perbankan modern di Batavia.

Pembangunan kemudian berlanjut secara bertahap. Pada 1922, pembangunan tahap kedua dilakukan dengan penyesuaian rancangan bangunan. Tahapan berikutnya terus berlangsung hingga akhirnya kompleks bangunan mengalami pengembangan untuk menjawab kebutuhan ruang yang semakin besar.

Pada pertengahan 1930-an, rancangan pengembangan kembali dilakukan. Arsitek muda Thomas Karsten turut terlibat dalam pengembangan komposisi bangunan, termasuk usulan penambahan bagian depan untuk mengembalikan kesan simetris pada keseluruhan bangunan.

"Perjalanan gedung ini kemudian memasuki babak baru setelah Indonesia merdeka," jelasnya.

Bangunan yang sebelumnya menjadi bagian dari sistem perbankan kolonial beralih fungsi dalam perjalanan sejarah perbankan nasional.

Bank Indonesia kemudian berdiri sebagai bank sentral Indonesia, membawa gedung tersebut ke dalam babak baru sejarah ekonomi bangsa. Kini, bangunan itu tidak lagi sekadar menjadi peninggalan arsitektur masa Hindia Belanda. Gedung tersebut telah ditetapkan sebagai Museum Bank Indonesia.

Dibalik fasad dan kemegahan arsitekturnya, museum ini menyimpan cerita tentang perubahan Batavia menjadi pusat perdagangan, lahirnya sistem perbankan modern, masa kolonial, hingga perjalanan Indonesia membangun sistem keuangan nasional setelah kemerdekaan.

"Bangunan ini merupakan bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sekaligus jawaban atas pencarian arsitektur khas Hindia Belanda," kata Paris.

Ikuti Terus JurnalPekan

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER