
PEKANBARU - Produktivitas perkebunan kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menghadapi persoalan serius. Sekitar 75.740 hektare tanaman kelapa tercatat sudah tua, rusak, dan tidak lagi menghasilkan secara optimal.
Kondisi ini dinilai menjadi hambatan utama dalam pengembangan industri hilir kelapa. Tanpa pasokan bahan baku yang cukup dan stabil, investasi industri pengolahan berisiko tidak berkembang maksimal.
Ketua Tim Peneliti IPB, Dr Feryanto MSi mengatakan, pembenahan sektor hulu harus menjadi prioritas sebelum pengembangan industri hilir diperluas.
Menurutnya, persoalan perkebunan tidak hanya terletak pada usia tanaman, tetapi juga rendahnya margin usaha tani yang membuat petani kesulitan melakukan peremajaan.
Karena itu, penggunaan bibit unggul dan perbaikan tata air menjadi kebutuhan mendesak. Langkah tersebut diperlukan untuk mengembalikan produktivitas kebun sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri.
Feryanto menyebut, penguatan sektor hulu harus berjalan beriringan dengan pembangunan industri pengolahan. Integrasi kedua sektor tersebut dinilai mampu menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar.
Berdasarkan pengujian tim peneliti IPB, peningkatan produktivitas kebun sebesar 30 persen yang disertai kenaikan kapasitas industri sebesar 50 persen berpotensi mendorong pertumbuhan output kelapa dari 1,5 persen menjadi 4,41 persen.
Dampak pengembangan kelapa juga dinilai strategis bagi masyarakat pesisir. Tercatat sebanyak 62.864 rumah tangga menggantungkan penghidupan pada sektor perkebunan kelapa, terutama di Inhil.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, tim peneliti merekomendasikan tiga langkah utama. Pertama, meningkatkan produksi perkebunan melalui peremajaan dan penggunaan bibit unggul.
Kedua, memperbaiki jalur angkut dan sistem logistik dari kebun menuju pabrik. Ketiga, menciptakan iklim investasi yang kondusif agar investor tertarik membangun industri pengolahan kelapa di daerah.(nov)