Pekanbaru - Penyaluran kredit perbankan Indonesia terus tumbuh meski ekonomi global dibayangi ketidakpastian. OJK mencatat kredit perbankan mencapai Rp9.178 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 13,65 persen secara tahunan.
"Pertumbuhan tersebut sedikit menguat dibandingkan Juli 2026 yang berada di level 13,58 persen," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, dalam rilis OJK, Rabu (7/10/2026).
Berdasarkan penggunaannya, kredit investasi menjadi motor utama dengan pertumbuhan 25,11 persen. Kredit modal kerja tumbuh 11,45 persen, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,07 persen.
Dari sisi debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 22,18 persen. Kredit UMKM juga mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan 2,32 persen, naik dari 1,62 persen pada Juli.
Namun, di tengah pertumbuhan kredit produktif, pembiayaan Buy Now Pay Later atau BNPL terus melaju kencang.
Data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK menunjukkan baki debet BNPL perbankan mencapai Rp31,41 triliun pada Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 29,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Jumlah rekening BNPL juga mencapai sekitar 34 juta rekening," ujarnya.
Ia mencatat pertumbuhan BNPL memang melambat dibandingkan Juli yang mencapai 31,22 persen, tetapi lajunya masih jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan.
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 10,94 persen menjadi Rp10.413 triliun. Deposito tumbuh 13,10 persen, giro 9,82 persen, dan tabungan 9,56 persen.
Ia menambahkan, kondisi likuiditas perbankan masih memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit mencapai 102,31 persen dan Alat Likuid terhadap DPK sebesar 23,04 persen, jauh di atas ambang masing-masing 50 persen dan 10 persen.
Kualitas kredit juga relatif terjaga dengan NPL gross 2,11 persen. Sementara permodalan bank semakin kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 24,10 persen.