PEKANBARU - Harapan untuk meredam harga cabai di Pekanbaru kini bertumpu pada pasokan baru dari sentra produksi. Pemerintah Kota Pekanbaru memperkirakan panen raya di Medan dan Aceh bulan ini dapat menambah pasokan sekaligus menekan harga.
Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru Zulhelmi Arifin mengatakan harga cabai saat ini tinggi karena pasokan dari sejumlah daerah penghasil sedang berkurang.
“Kita mendengar dari pedagang bahwa harga modalnya juga tinggi karena terjadi siklus panen. Di daerah penghasil produksinya berkurang,” kata Zulhelmi, Senin (5/10/2026) malam.
Kondisi tersebut membuat pedagang Pekanbaru harus berebut pasokan dengan daerah lain. Cabai dari Lampung, misalnya, tidak hanya dipasarkan ke Sumatera, tetapi juga menjadi incaran pasar di Pulau Jawa, khususnya DKI Jakarta dan Banten.
“Dari Lampung juga rebutan. Mereka juga untuk jual ke Jawa, terutama DKI Jakarta dan Banten,” ujarnya.
Situasi pasokan yang ketat itu ikut mendorong harga cabai di Pekanbaru. Cabai dari Bukittinggi, Sumatera Barat, misalnya, disebut sudah mencapai sekitar Rp95.000 per kilogram. Di tingkat pasar Pekanbaru, harga kemudian dapat menembus Rp120.000 per kilogram.
Pemko Pekanbaru berharap panen raya di Medan dan Aceh yang diperkirakan berlangsung bulan ini dapat memperbesar pasokan ke Pekanbaru.
Jika suplai kembali normal, tekanan harga di tingkat konsumen diharapkan ikut mereda.
Di sisi lain, Pemko Pekanbaru menyiapkan intervensi melalui subsidi transportasi.
Pemerintah tengah mengupayakan agar biaya pengiriman dari daerah penghasil dapat ditekan sehingga harga komoditas yang masuk ke Pekanbaru lebih kompetitif.
Zulhelmi mengatakan pemerintah akan terus memantau pasokan dan kebutuhan sebelum menentukan bentuk intervensi yang akan dilakukan.
“Kalau suplai banyak, insyaallah harga cabai juga akan bisa dikendalikan,” katanya.