Obat Kuat Ilegal Senilai Rp1,2 Miliar Disita BPPOM di Pekanbaru
PEKANBARU - Ribuan jenis obat kuat tanpa izin edar senilai Rp1,2 miliar disita Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Pekanbaru, Riau.
Beragam jenis obat kuat ilegal itu didapati dari operasi petugas gabungan ketika melakukan penggrebekan di gudang obat tradisional di Mandau, Bengkalis.
Kepala BBPOM di Pekanbaru Yosef Irawan mengatakan, pihaknya menggelar operasi bersama bersama polisi dan Dinas Kesehatan Bengkalis, pada Senin 6 Juni.
"Operasi penindakan pada distribusi obat tradisional di Mandau, Bengkalis pada 6 Juni. Ini berawal dari laporan masyarakat terkait peredaran obat tanpa izin," kata Yosef dilansir dari mcr, Sabtu (11/6/2022).
Operasi gabungan dilakukan setelah pihak BBPOM wilayah Dumai menerima laporan. Selanjutnya dilakukan pendalaman hingga cek lokasi untuk penggrebekan gabungan.
"Dari situ tim melakukan pendalaman dan ditemukan 138 jenis obat tradisional tidak berizin dengan total 74 ribu pcs. Nilai total ekonomis Rp 1,2 miliar," katanya.
Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam, pemilik sekaligus distributor inisial F (27) ditetapkan tersangka. F juga dijerat Pasal 196 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun.
Sebelum menggrebek F, BBPOM mengaku sudah pernah menggrebek lokasi tersebut pada 2019 lalu. Namun, saat itu pemiliknya adalah paman F dan hanya divonis 3 bulan penjara.
"Ini sudah pernah ditindak, waktu itu yang kami tangkap peman F. Sayangnya waktu kasus pertama hanya divonis 3 bulan dan tidak menjadikan efek jera. Terbukti kalau bisnis ini dilanjutkan F," katanya.
Kepala Loka POM Kota Dumai, Ully Manda Sari mengatakan dari ribuan obat ilegal itu mayoritas adalah obat kuat. Alasan cukup klasik, karena banyak peminat.
"Jadi 60 persen ini mengandung obat kuat yang berdampak pada kesehatan, ini obat tradisional yang dikemas. Tetapi bahannya ada kimia yang berbahaya," imbuh Manda.
Manda menyebut obat tanpa izin edar itu juga memberi efek samping. Salah satu yang kerap terjadi adalah jantung berdetak kencang hingga berakibat kematian.
"Efek samping jantung. Obat anti nyeri dan obat-obatan lain yang berakibat fatal bagi yang mengkonsumsi. Bisa juga sampai ke kematian, kan kita sering dengar ada yang mati di hotel. Ini salah satu contoh," tegas Manda.
Tidak tanggung-tanggung, sebagai pihak distributor, F juga mendapat omset Rp 20 juta dalam sepekan. Hal itulah yang jadi alasan pelaku terus beroperasi meskipun berulang kali ditindak.
Berita Lainnya +INDEKS
Kabid Humas Polda Riau Kombes Pandra Diganti
PEKANBARU - Jabatan Kepala Bidang Humas Polda Riau resmi berganti setelah terbit Surat Telegram K.
Diduga Minta Uang, Oknum Petugas KUA di Pekanbaru Dikeluhkan Warga Saat Urus Surat
Pekanbaru - Seorang warga mengeluhkan proses pengurusan administrasi pendukung untuk keperluan di.
Pemko Pekanbaru Gratiskan Sekolah di 23 SMP Swasta dan 15 MTs Lewat Program Zero Putus Sekolah
PEKANBARU - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memastikan program pendidikan gratis tidak hanya be.
MBG Diperdebatkan: Pemprov Riau Sebut Retribusi Turun, Pemko Pekanbaru Klaim PAD Naik
PEKANBARU - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan perbedaan pandangan antara Plt Gubernu.
Warung Sampah hingga 8 Armada: LPS Delima Asri Tumbuh Bersama Pendampingan DLHK
PEKANBARU - Inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus berkembang di Kota Pekanbaru. Le.
Walikota Ajak Warga Bersama Bangun Pekanbaru, Tekankan Pelayanan dan Ekonomi
Pekanbaru - Walikota Pekanbaru Agung Nugroho mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendu.








