37 Tahun Kopi di Meranti Tanpa Nama, Kini Liberika Jadi Peluang Bisnis
PEKANBARU - Kopi menjadi teman hidup masa kini, tak ayal banyak dicari, hingga saat ini kopi bisa menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan jika ditekuni dengan baik.
Berkaca dari Sunyoto seorang Petani kopi di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau yang telah mengenal kopi sejak 46 tahun silam, kini dipercaya sebagai pembicara di sejumlah iven. Salah satunya pengenalan kopi di sebuah hotel kota Dumai, Riau yang digagas oleh Bank Indonesia Perwakilan Riau.
Kata Sunyoto, Bank Indonesia memang selalu memfasilitasi langkahnya untuk terus berkembang di bidang kopi, selain promosi Bank Indonesia juga memberi dukungan pelatihan hingga mengikuti iven di luar Provinsi.
"Bank Indonesia memfasilitasi saya mulai dari menghadiri iven keluar Provinsi Riau seperti di Kalimantan dan belajar tentang kopi di Sumatera Barat," kata Nyoto sapaan akrabnya.
Pria kelahiran 1963 itu bercerita, penjualan kopi Meranti sudah menembus pasar Malaysia sejak 1980. Hal itu dipengaruhi letak geografis antara Kecamatan Rangsang dengan Johor, Malaysia hanya 94,90 kilometer.
"Ke Malaysia hanya 2 jam perjalanan saja, lewat Selat Malaka," kata lansia muda anak 3 itu.
Malah lanjutnya, transportasi menuju ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru bisa menghabiskan waktu setengah hari perjalanan. "Akses transportasi sangat mempengaruhi untuk menjual kopi ke Pekanbaru," ceritanya.
Ia mengatakan, tingginya peminat kopi Meranti di Malaysia dipengaruhi sejarah masa lalu. Menurut cerita, bibit kopi yang ditanam petani di kepulauan Meranti dulunya berasal dari Malaysia. Bibit itu dibawa oleh perantau asal Meranti dari Malaysia, saat pulang kampung.
Bibit yang dibawa dari Malaysia lalu di budidayakan di Desa Kedabu Rapat hingga berkembang di Kepulauan Meranti yang menjadikan salah satu alasan kopi Meranti diminati orang Malaysia.
Kopi yang tumbuh subur di Meranti itu, tak serta merta langsung dikenal luas bahkan masyarakat setempat belum mengetahui apa jenis kopi yang mereka tanam.
"Lebih kurang 37 tahun kopi yang kami tanam tidak ada namanya. Petani hanya menanam saja tanpa mengetahui namanya," cerita Nyoto lebih jauh.
Pada akhirnya tepat tahun 2010 Penelitian dari Bogor, Jawa Barat turun ke Meranti dan mengambil sample kopi untuk diteliti. "Orang Balai Penelitian Tanaman Industri datang. Hasil dari penelitian itu menyebut kopi yang ditanam di Meranti, jenis Liberika.
Abdurrahman penggiat kopi fokus menjual kopi Liberika di Erber Coffee Jalan Sultan Syarif Qasim Pekanbaru. Sebagai pendiri ia telah menemukan racikan yang pas untuk dipromosikan tentunya yang memanjakan lidah penikmat kopi.*
Berita Lainnya +INDEKS
11.856 Ijazah SMA-SMK di Riau Masih Tersimpan di Sekolah
PEKANBARU - Sebanyak 11.856 ijazah SMA dan SMK Negeri di Provinsi Riau masih tersimpan di sekolah.
Kelapa Sawit Mitra Plasma Minggu Ini Jadi Rp3.900
PEKANBARU - Dinas Perkebunan Provinsi Riau bersama tim telah melaksanakan rapat penetapan harga k.
Harga Minyakita di Pekanbaru Tembus Rp20 Ribu
PEKANBARU - Kondisi stabilitas harga minyak goreng subsidi pemerintah, Minyakita, di Kota Pekanba.
Harga Kelapa Sawit Mitra Plasma Minggu Ini Rp4.075 Perkilo
PEKANBARU - Dinas Perkebunan Provinsi Riau bersama tim telah melaksanakan rapat penetapan harga k.
Harga Kelapa Sawit Mitra Plasma Naik Jadi Rp3.950
PEKANBARU - Dinas Perkebunan Provinsi Riau bersama tim telah melaksanakan rapat penetapan harga k.
Ketua Mahkamah Agung Lantik Tujuh Anggota Dewan Komisioner OJK
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Sunarto melantik tujuh Anggota Dewan Komisioner (ADK) Oto.







