Cara Unik Membesarkan Anak Agar Bahagia
Jurnalpekan.com - Sampai saat ini masih banyak orang tua yang bertanya-tanya bagaimana membesarkan anak yang bahagia. Sebab, membesarkan anak yang bahagia bukan tentang memberi mereka kesenangan atau kepuasan sesaat.
Siapa sangka, kunci untuk membesarkan anak yang bahagia adalah membiarkan mereka tidak bahagia. Ini mungkin terdengar kontra-intuitif, tetapi sangat efektif, menurut Tovah Klein, seorang psikolog anak dan penulis buku "How Toddlers Thrive."
"Kita semua berpikir cara membesarkan anak agar bahagia adalah dengan membuat mereka bahagia. Tapi sebenarnya, anak-anak tahu bagaimana menjadi bahagia, menemukan kegembiraan. Ini bukan perasaan sepanjang waktu," kata Klein, direktur Pusat Pengembangan Balita Barnard College dilansir dari cnbcindonesia.com, Minggu (7/5/2023).
Menurutnya, orang tua sering kesulitan menerima anak-anak marah, sedih, tidak bahagia dalam beberapa hal.
Ketika seorang anak kesal, orang tua sering kali secara naluriah mencari untuk menghibur atau mengalihkan perhatian mereka. Mereka mungkin menawarkan kue coklat, atau pergi ke taman untuk berlarian.
Tidak ada yang salah dengan melakukan hal-hal baik untuk anak Anda ketika mereka tidak bahagia, tetapi itu tidak selalu mengatasi sumber dari apa yang membuat anak kesal. Ini terutama ketika sumbernya tampak sepele, seperti tidak diizinkan menonton televisi atau bermain game.
Dalam kasus-kasus itu, anak percaya reaksi negatif mereka tepat, dan mereka perlu belajar untuk mengatasi dan mengelola perasaan itu yang secara intuitif tidak mereka ketahui bagaimana melakukannya.
Anda juga dapat meminta anak yang sedang kesal untuk menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Anda juga bisa mengakui perasaan anak, meskipun Anda harus berdiri teguh.
Misal, 'Saya berharap kita bisa melakukan itu' atau 'Sayangnya, saat ini kami tidak bisa.'
Terlepas itu, pahamilah emosi negatif anak akan selalu berlalu, kecuali jika ada peristiwa traumatis besar. Dengan asumsi hidup mereka baik-baik saja, mereka akan bahagia.
Anak-anak yang belajar mengelola emosi negatif mereka secara efektif lebih mungkin mengembangkan ketahanan yang mereka perlukan sebagai orang dewasa yang sukses, menurut penelitian.
Ketakutan akan perasaan negatif itu dapat menyebabkan masalah perilaku jangka panjang. Anak bisa menjadi malu dengan perasaan itu, dan memiliki pemikiran tentang keraguan diri mereka. Itulah mengapa orang tua perlu menerima anak mereka tidak bisa bahagia sepanjang waktu.
Berita Lainnya +INDEKS
25 Tahun L-Men, Perluas Gerakan Gaya Hidup Sehat Lewat Komunitas dan Atlet
PEKANBARU - L-Men memperluas keterlibatannya dalam gerakan gaya hidup sehat melalui dukungan terh.
L-Men Perkuat Strategi Bisnis Lewat Inovasi Berbasis Sains
PEKANBARU - L-Men menandai 25 tahun perjalanan di industri nutrisi pria dengan memperkuat inovasi.
Hermina Soroti Golden Period 60 Menit, Integrasi dengan Jasa Raharja Disiapkan
PEKANBARU - Penanganan korban kecelakaan lalu lintas pada 60 menit pertama atau golden period men.
Jasa Raharja Integrasikan Sistem Rumah Sakit, Percepat Penjaminan Korban Kecelakaan
PEKANBARU - Proses penjaminan biaya perawatan korban kecelakaan lalu lintas ditargetkan lebih cep.
Lidah Mertua Tak Sekadar Tanaman Hias, Disebut Bantu Bersihkan Udara di Rumah
Pekanbaru - Tanaman lidah mertua tak hanya dikenal sebagai tanaman hias. Tanaman yang memiliki da.
Honda Ingatkan 350 Mahasiswa UMRI Bahaya Berkendara saat Ngantuk
PEKANBARU - Sebanyak 350 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) mendapat edukasi tentang .








