Perluas Basis Pajak, DJP Riau: UMKM Omzet Dibawah Rp500 Juta Tetap Bebas Pajak
PEKANBARU - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Riau menegaskan strategi perluasan basis pajak dilakukan dengan mengedepankan keadilan dan tidak membebani wajib pajak yang selama ini telah patuh. Kebijakan tersebut menjadi fokus dalam Forum Silaturahmi dan Konsultasi Publik menyambut Hari Pajak 2026.
Kepala Kanwil DJP Riau YFR Hermiyana mengatakan, perluasan basis pajak diarahkan untuk menjangkau pelaku ekonomi informal dan ekosistem digital yang belum terdaftar, bukan menaikkan beban pajak bagi masyarakat yang sudah memenuhi kewajiban.
Ia menegaskan, pelaku UMKM dengan omzet di bawah Rp500 juta per tahun tetap dibebaskan dari pajak. Sementara UMKM dengan omzet hingga Rp4,8 miliar per tahun tetap dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5 persen.
"Perluasan basis pajak dilakukan secara humanis dan berkeadilan. Tujuannya meningkatkan kepatuhan sekaligus memperkuat penerimaan negara tanpa memberatkan UMKM," kata YFR dalam rilis DJP, Senin (13/7/2026).
Dalam forum tersebut, DJP Riau juga menegaskan komitmen membangun sistem perpajakan yang lebih responsif melalui dialog dengan pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, akuntan publik, dan media.
Sementara itu, akademisi Universitas Riau Dr Dahlan Tampubolon, menilai struktur ekonomi Riau masih rentan karena sekitar 74 persen bergantung pada sektor primer seperti perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan menggali potensi pajak dari sektor properti komersial, perhotelan, perdagangan digital, hingga pemanfaatan alat perekam transaksi secara real time.
Ketua Umum KADIN Riau Masuri menambahkan, perluasan basis pajak harus tetap berpihak kepada dunia usaha. Ia mendorong kemudahan administrasi bagi pelaku usaha baru, akses pembiayaan bagi UMKM, serta penyediaan konsultasi perpajakan dan pelatihan pembukuan secara gratis.
Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Riau Adnan Wimbyarto juga mengingatkan, ruang fiskal Riau masih bergantung sekitar 76 persen pada Transfer ke Daerah (TKD). Karena itu, optimalisasi potensi ekonomi daerah dan penguatan integrasi data antara pemerintah daerah, KPP, dan KPPN dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan fiskal.
Berita Lainnya +INDEKS
Kepatuhan SPT Tahunan di Riau Capai 88,66 Persen, Industri Pengolahan Dongkrak Pajak
PEKANBARU - Tingkat kepatuhan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh).
DJP Riau Harus Kejar Rp7,12 Triliun dalam Tiga Bulan
PEKANBARU - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Riau menghadapi tekanan besar u.
Target Kredit Rp400 Triliun pada 2027, OJK Dorong Inklusi Keuangan Sepanjang Tahun
PEKANBARU - Pemerintah menargetkan penyaluran kredit perbankan secara nasional mencapai Rp400 tri.
Target Satu Orang Satu Rekening, OJK Riau Tekankan Akses Keuangan
PEKANBARU - Program satu orang satu rekening yang disampaikan pemerintah pusat menjadi salah satu.
Kredit Rp53,15 Triliun Disalurkan dalam Tiga Bulan, 2,1 Juta Debitur Terima Pembiayaan
Pekanbaru - Sebanyak 2.106.401 debitur menerima kredit atau pembiayaan senilai Rp53,15 triliun se.
OJK Catat Kredit Rp64,85 Triliun untuk Lawan Rentenir, 2,28 Juta Debitur Terjangkau
Pekanbaru - Program Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir yang dikoordinasikan melalui Tim Percepata.








