Digitalisasi Dongkrak Sektor PVML, Pindar dan BNPL Tumbuh Dua Digit
PEKANBARU - Digitalisasi mengubah wajah sektor Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan perusahaan pembiayaan (PVML). Tiga lini usaha berbasis digital pinjaman daring (Pindar), Buy Now Pay Later (BNPL), dan usaha bulion atau bank emas mencatat pertumbuhan jauh di atas rata-rata sektor.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dipaparkan dalam 2nd Riau Economic Forum 2026 di Pekanbaru, Senin (31/8/2026), menunjukkan pertumbuhan paling tinggi terjadi pada pembiayaan BNPL dan pinjaman daring.
Pada Juni 2026, outstanding pinjaman daring mencapai Rp105,14 triliun, tumbuh 25,88 persen secara tahunan. OJK mencatat terdapat 94 penyelenggara berizin, terdiri atas 87 penyelenggara konvensional dan tujuh syariah.
Meski tumbuh cepat, kualitas pembiayaan masih menjadi perhatian. Tingkat wanprestasi lebih dari 90 hari atau TWP90 tercatat 4,26 persen pada Juni 2026, membaik dibandingkan 4,42 persen pada Mei.
Direktur Pengawasan Usaha Pembiayaan Berbasis Teknologi OJK Indra mengatakan digitalisasi telah mengubah proses pembiayaan secara menyeluruh. Pindar mempertemukan pemberi dana dan penerima dana melalui sistem elektronik, mulai dari verifikasi identitas, penilaian kredit, pencairan hingga penagihan.
Pemanfaatan data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan Pusat Data Fintech Lending (Pusdafil) menjadi bagian dari proses tersebut.
Sementara itu, pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,40 triliun pada Juni 2026. Angka tersebut melonjak 57,02 persen secara tahunan.
BNPL kini terintegrasi langsung dengan e-commerce, marketplace, dan aplikasi pembayaran. Persetujuan pembiayaan dapat dilakukan secara instan dengan memanfaatkan data transaksi digital.
Namun, pertumbuhan agresif tersebut juga dibarengi risiko kredit. NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan berada di level 3,09 persen pada Juni 2026, turun dari 3,44 persen pada Mei.
Selain Pindar dan BNPL, digitalisasi juga mulai masuk lebih dalam ke bisnis emas melalui kegiatan usaha bulion.
Konsep bank emas mencakup simpanan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas. Produk seperti tabungan dan deposito emas hingga pembiayaan berbasis emas dapat diakses melalui aplikasi digital.
Pada semester I 2026, ekosistem usaha bulion telah mengelola lebih dari 150 ton emas, sementara deposito emas Pegadaian mencapai 2,2 ton.
Secara keseluruhan, sektor PVML pada Juni 2026 terdiri atas 756 pelaku usaha, yakni 657 konvensional dan 99 syariah. Total aset mencapai Rp1.124,72 triliun, tumbuh 8,29 persen secara tahunan. Penyaluran pembiayaan mencapai Rp1.032,51 triliun, tumbuh 8,84 persen.
Berita Lainnya +INDEKS
BI: Konsumsi, Kredit dan Transaksi Digital Jadi Motor Ekonomi Riau
PEKANBARU - Penguatan konsumsi masyarakat, penyaluran kredit, dan transaksi digital dinilai menja.
OJK Soroti Ketergantungan Pindar, BNPL, dan Bulion pada Ekosistem Perbankan Digital
PEKANBARU - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bisnis pendanaan digital, buy now pay later (BNP.
Bank Aladin Syariah Geser Strategi, Bangun Ekosistem Digital dan Perkuat Deteksi Fraud
PEKANBARU - PT Bank Aladin Syariah Tbk mengubah pendekatan bisnisnya dari sekadar menjual produk .
Pajak Air Permukaan Dikejar, Pemprov Riau Pastikan Tak Mudah Dimanipulasi
PEKANBARU - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memperketat penerimaan dari sektor pajak air permu.
BI Riau Dorong Ekonomi Tumbuh Solid dan Digitalisasi Makin Cepat
PEKANBARU - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau kembali mendorong penguatan ekono.
Sekdaprov Riau Dorong Perusahaan Bayar Pajak dan Prioritaskan Truk Berpelat Lokal
PEKANBARU - Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau Syahrial Abdi mendorong perusahaan yang b.








