OJK Waspadai Gejolak Global, Ekonomi RI Masih Tumbuh 5,29 Persen
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan (SJK) nasional masih dalam kondisi stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Namun, sejumlah risiko eksternal mulai membayangi perekonomian, mulai dari konflik geopolitik hingga tekanan inflasi dan pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tinggi seiring berlarutnya konflik di Iran dan belum terbukanya kembali Selat Hormuz.
Gangguan pada jalur distribusi energi tersebut berpotensi memicu volatilitas harga minyak dan komoditas. Dampaknya, tekanan inflasi global masih sulit ditekan.
Tekanan tersebut diperburuk fenomena El Nino berkepanjangan yang memicu kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah kawasan. Kondisi ini meningkatkan risiko gagal panen sekaligus mendorong kenaikan harga pangan dunia.
Ditengah tekanan tersebut, laju ekonomi global mulai kehilangan momentum. Mayoritas negara mencatat perlambatan pertumbuhan pada triwulan II-2026.
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang menghadapi tekanan. Pertumbuhan ekonominya melambat di bawah ekspektasi, sementara pasar tenaga kerja mulai moderat dan inflasi masih bertahan pada level tinggi meski menunjukkan tren penurunan.
Kondisi serupa terjadi di Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu pada triwulan II-2026 melambat menjadi 4,3 persen secara tahunan (yoy). Data terbaru juga menunjukkan pelemahan masih berlanjut, baik dari sisi produksi maupun permintaan domestik.
Tekanan turut terasa di pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah negara-negara maju kembali meningkat, antara lain dipengaruhi kebutuhan pendanaan belanja modal perusahaan hyperscaler di tengah kebijakan moneter yang masih restriktif.
Arus keluar dana nonresiden dari pasar keuangan global juga masih terjadi, terutama di sejumlah negara berkembang.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan. Ekonomi nasional pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen yoy, meski melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,61 persen.
Pertumbuhan terutama ditopang investasi dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga juga tetap menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi.
"OJK mencatat sejumlah indikator domestik perlu diwaspadai," kata Friderica dalam rilis OJK, Selasa (8/9/2026).
Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen yoy, sementara aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) sebesar 49,8.
Ketahanan eksternal Indonesia juga mengalami tekanan. Defisit neraca perdagangan masih berlanjut hingga Juni 2026, sementara defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2026 meningkat menjadi 3,3 persen terhadap PDB.
OJK menilai perkembangan tersebut menjadi tantangan yang perlu dicermati di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global.
Berita Lainnya +INDEKS
OJK Awasi 16 Lembaga Bermasalah, 8 Asuransi 8 Dana Pensiun
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan di sektor pera.
OJK Tindak 38.375 Rekening Judi Daring
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan terhadap rekening yang terindikasi digunakan .
IHSG Menguat 4,64 Persen, Dana Asing Kembali Masuk Rp1,19 Triliun
Pasar modal Indonesia mulai menunjukkan pemulihan pada Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan .
DJP Riau Tanamkan Kesadaran Pajak Sejak Sekolah
PEKANBARU - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Riau mulai menanamkan kesadaran perpajakan sejak bang.
BI: Konsumsi, Kredit dan Transaksi Digital Jadi Motor Ekonomi Riau
PEKANBARU - Penguatan konsumsi masyarakat, penyaluran kredit, dan transaksi digital dinilai menja.
OJK Soroti Ketergantungan Pindar, BNPL, dan Bulion pada Ekosistem Perbankan Digital
PEKANBARU - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bisnis pendanaan digital, buy now pay later (BNP.








